PERKENANKAN HAMBA MENYESAL
(Sikarang Batukapur Makhluk dungu
penggembala angin)
Malam ini Ramadhan hampir sampai di Bahan
Renungan
tapal batas
kawasannya. Sebagaimana sebuah perjalanan, setiap denyut waktu akan memberikan
buah apa saja yang sepadan dengan perilaku yang sudah kita lakukan. Atau bisa
jadi tak memperleh apapun karena kita tak melakukan apa-apa. Jika aku tak mau
munafik, mesti saja tetap berharap bisa menelusuri lorong Ramadhan lagi, dengan
keyakinan dan kesungguhan yang benar dalam menyambutnya, karena Ramadhan saat
ini masih ada sesal terbawa meninggalkan batas kawasannya.
Mengenang dari awal.
Sholat tarawihku, tadarusku belum khusuk dan tak memenuhi bilangan jumlah malam
Ramadhan. Bacaan Al-Qur’an masih jauh dari kefasihan dan kesempurnaan. Seharusnya,
pada bulan penuh ampunan ini, setan terbelenggu karena pintu surga dibuka,
namun aku belum kuasa menjaga diri dari nafsu tamak panca indera, sehingga aku
membikin rantai belenggu setan menjadi rapuh. Mataku masih suka melihat paras
molek, kendati sebatas mengagumi. Telingaku masih riang mendengar kata haram,
kendati Cuma sebelah. Mulutku masih mau memburukkan orang lain, kendati tak
menganiaya. Walau pada akhir kesadaran terucap kalimat “Astagfirullahal
A’dzim”. Aku tak mengelak, kalau semua itu adalah sebuah kesalahan. Memang puas
ataupun sesal selalu hadir diakhir peristiwa.
Tapi patut kuucapkan
“Alhamdulillahi Robbil Alamiin”, karena Allah masih berkenan memberikan
penyesalan kepadaku, karena itu adalah hidayah yang terselip dibalik hikmah Ramadhan.
Kini pada umurku yang
tersisa, hanya bisa memohon “ Ya Allah, Ya Robbil Alamiin, perkenankan hambamu
ini berjumpa lagi dengan Ramadhan yang akan datang”.
Pati Utara, 28 Ramadhan 1434 H

Tidak ada komentar :
Posting Komentar